DARI BANDUNG UNTUK DUNIA



Bandung akan jadi panggung politik juga budaya pada 19-23 April 2015. Peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 digelar, berisi pertemuan antarpetinggi negara, telusuri sejarah hingga atraksi budaya.

Sebagian kegiatan memang akan dilakukan di Jakarta. Namun, puncaknya berlangsung di Bandung, lokasi penyelenggaraan KAA pertama 1955. Mereka akan berjalan bersama menelusuri jejak sejarah di sepanjang Jalan Asia-Afrika pada 24 April 2015 mendatang, pawai budaya yang juga diikuti perwakilan negara sahabat.

"Ini forum yang bisa memberi panggung agar Bandung tidak hanya menjadi macan Indonesia, tetapi juga macan dunia. Kalau jadi kenyataan, teman-teman mahasiswa nantinya akan menjadi aktor utama untuk menjalin hubungan di bidang budaya dalam kerangka second track diplomacy karena pemerintah tidak mungkin bisa melakukannya sendirian," kata Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Kementerian Komunikasi dan Informatika Freddy H Tulung dalam seminar Reaktualisasi Spirit Konferensi Asia Afrika di Kampus Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran, Jatinagor, Kamis (12/3).

Ulang era kejayaan

Pembelajaran dari KAA, kata Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Yuliandre Darwis, Indonesia sempat sangat dihormati dunia internasional. Era kejayaan itu mestinya bisa diulang berbekal kreativitas, yang menjadi penanda utama identitas anak muda Indonesia, terutama Bandung.

"Generasi muda harus mulai bertindak sebagai kreator, bukan hanya sebagai pengikut. Banyak kerugian yang timbul saat bangsa ini tidak kreatif, salah satunya kehilangan pendapatan potensial dari pemanfaatan media sosial buatan asing. Tanpa sadar, Youtube sudah menghasilkan Rp1 triliun dari iklan dari Indonesia saja, tanpa bayar pajak. Jadi, jangan hanya menjadi bangsa follower tanpa bisa melakukan sesuatu yang kreatif," tukas Yuliandre.

Berdampak nyata

Arif, mahasiswa jurusan Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 2009, menegaskan peringatan KAA semestinya berdampak pada penaikan derajat kesejahteraan masyarakat. "Tidak jauh dari lokasi utama penyelenggaraan, masih ada sejumlah masyarakat yang tinggal dengan kondisi tidak layak. Hal itu patut menjadi perhatian mengingat kondisi serupa juga banyak ditemui di negara-negara lain di belahan Asia-Afrika. Penyelenggaraan konferensi ini harus berdampak ke masa depan," tegas Arif.

Hal senada juga diungkapkan Freddy. Ada makna mendalam dari sekadar nostalgia masa lalu, semangat KAA yang tecermin dalam Dasa Sila Bandung sangat relevan menjawab permasalahan negara-negara Asia-Afrika saat ini. "Utamanya berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan karena nyatanya kemerdekaan politik yang diraih belum diikuti oleh kemerdekaan bangsa dari sisi ekonomi dan budaya. Kemiskinan masih menjadi masalah dunia yang cukup besar, kita mencoba untuk menerapkan kembali nilai-nilai dari Dasa Sila Bandung yang spiritnya mencerminkan toleransi untuk hidup damai dengan tetangga," sahut Freddy.

Tiga dokumen

Indonesia, kata Freddy, menargetkan konferensi tahun ini bisa menghasilkan tiga dokumen penting. Pertama, Bandung Message yang berisi konten-konten yang mengarah pada peningkatan solidaritas politik, ekonomi, dan budaya antarnegara Asia dan Afrika.

Dokumen kedua direncanakan berisi pembahasan tindak lanjut peringatan KAA ke-50 lalu terkait kerja sama dalam delapan sektor utama yang meliputi kontraterorisme, kejahatan transnasional, keamanan

pangan, keamanan energi, usaha kecil dan menengah, pariwisata, jejaring pembangunan universitas di Asia-Afrika, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Dokumen ketiga yang tidak kalah pentingnya ialah Deklarasi Palestina yang akan berisi dukungan untuk kemerdekaan penuh Palestina dan pemenuhan hak-hak dasar warga negaranya. Jika seluruhnya tercapai, peringatan KAA diharapkan akan memberikan maslahat bagi Indonesia juga dunia.

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/9303/Dari-Bandung-untuk-Dunia/2015/03/15

DENGARKAN SUARA ASIA AFRIKA



Gagasan inti Gerakan Selatan-Selatan, yaitu kesejahteraan, solidaritas, dan stabilitas negara-negara Asia-Afrika, disepakati untuk dihidupkan kembali.

MASYARAKAT dunia diminta mendengar seluruh keputusan yang dihasilkan dalam Konferensi Asia Afrika (KAA). Apalagi, KAA merupakan pertemuan antarnegara terbesar di luar kerangka Perserikatan BangsaBangsa.

Presiden ketujuh RI Joko Widodo menegaskan seruan itu saat menyampaikan pidato penutupan KAA 2015 di Jakarta Convention Center, kemarin.

“Suara-suara di pertemuan ini mewakili suara Asia dan Afrika. Dengan demikian, masyarakat dunia harus mendengarkan suara dan keputusankeputusan yang sudah kami buat selama konferensi ini,” kata Presiden.

Selama dua hari penyelenggaraan pertemuan tingkat tinggi, negara-negara peserta KAA 2015 telah menghasilkan langkah-langkah konkret dalam memperkuat dan memajukan tatanan dunia yang lebih damai dan adil, be kerja menuju pencapaian kerja sama yang saling menguntungkan, menjembatani kesenjangan pembangunan, mewujudkan kemerdekaan Palestina, dan memastikan ke tersediaan keuangan untuk pembangunan infrastruktur, antara lain me lalui Infrastructure Asia Investment Bank.

KAA juga telah berha sil meng adopsi tiga dokumen hasil penting, yaitu Bandung Message, Deklarasi Kemitraan Strategis Asia Afrika yang baru, dan Deklarasi Palestina.

KAA juga telah se pakat untuk menghidupkan kembali gagasan inti dari Gerakan Selatan-Selatan, yaitu kesejahteraan, solidaritas, dan stabilitas negara-negara Asia-Afrika.

“Kami juga telah sepakat untuk membentuk jaringan pusat penjaga perdamaian di dua wilayah untuk memfasilitasi kerja sama pembangunan kapasitas sumber daya manusia,” tukas Jokowi.

Dalam kesempatan itu, Presiden Zimbabwe Robert Mugabe menyatakan semua hasil Konferensi Asia Afrika tertanam dalam tiga dokumen utama dan berharap para peserta menyepakati bahwa KAA 2015 merupakan event yang sukses, yang diilustrasikan de ngan keha diran peserta dari pemimpin di dua wilayah itu.

“Kesuksesan digambarkan dengan semangat pembebasan Palestina di semua sesi, tidak ada keraguan konferensi bersejarah ini, seperti saat pertama kali digelar pada 1955,” ujar Presiden Mugabe. Selain itu, Bandung juga ditetapkan sebagai ibu kota so lidaritas Asia Afrika dan sebuah pusat kajian Asia Afrika atau Asian African center akan dibangun di Indonesia.

Sebagai puncak peringatan ke-60 tahun KAA, setidaknya 22 kepala negara atau wakil ke pala negara dari negara-negara Asia dan Afrika dijadwal kan mengikuti Bandung Historical Walk hari ini.

“Ke-22 VVIP itu akan berbaur dengan ratusan delegasi lain setingkat menteri dan pejabat tinggi,” kata Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemen terian Luar Negeri Yuri Octavian Thamrin di Media Cen ter KAA, Jakarta Convention Center, kemarin.

Hari ini juga dijadwalkan penandatanganan Bandung Messages secara simbolis di Gedung Merdeka, Bandung, oleh Presiden Jokowi sebagai tuan rumah, Presiden Tiongkok Xi Jinping sebagai wakil Asia, dan Raja Swaziland Mswati III sebagai wakil Afrika. (Nov/Pra/ Hym/Kim/X-7)

EMAIL donny@mediaindonesia.com interupsi@mediaindonesia.com
MI/24/04/2015/Halaman 1  www.mediaindonesia.com

JOKOWI DESAK REFORMASI PBB


Lima negara pemegang hak veto di DK PBB dinilai sudah tidak mewakili kepentingan semua bangsa.


PRESIDEN ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo kembali menunjukkan kapasitas kepemimpinan di panggung internasional.Sehari setelah menyerukan agar penjajahan di Palestina diakhiri, Jokowi mengkritik keras Perserikatan BangsaBangsa (PBB).

Dalam pidato pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika, di Jakarta Convention Centre, kemarin, Presiden menilai PBB tidak adil dalam memberi peluang kemerdekaan kepada semua negara.Palestina, misalnya. Lembaga keuangan global pun hanya dikendalikan sebagian kecil negara makmur. Ketimpangan ekonomi menyebar. Karena itu, Jokowi mendesak reformasi PBB.

“Kita bangsa-bangsa di AsiaAfrika mendesak. Mendesak reformasi PBB agar berfungsi secara optimal sebagai badan dunia yang mengutamakan keadilan bagi kita semua, bagi semua bangsa,“ tegas Jokowi.

Fungsi PBB yang belum optimal itu, lanjut Presiden, ialah dalam hal mengakhiri konflik Palestina. Dunia, katanya, tak berdaya menyelesaikan konflik di negeri jajahan Israel itu. “Kita tidak boleh berpaling dari penderitaan rakyat Palestina. Kita harus terus berjuang bersama mereka. Kita harus mendukung lahirnya sebuah negara Palestina yang merdeka!“ Tepuk tangan para delegasi pun membahana.

Seruan Jokowi direspons positif pemimpin dunia. Dalam pertemuan bilateral dengan Jokowi, PM Jepang Shinzo Abe menyatakan mendukung langkah reformasi badan yang berpusat di New York, AS, itu.

“Jepang sepakat reformasi PBB diperlukan,“ kata Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto yang mendampingi Presiden dalam pertemuan itu. Di samping itu, lanjut Andi, Jepang dan Indonesia sepakat membahas lebih jauh kerja sama SelatanSelatan untuk meningkatkan stabilitas serta kesejahteraan Asia-Afrika.

Presiden Zimbabwe Robert Mugabe pun menyerukan pentingnya keseimbangan PBB demi terwujudnya tatanan dunia berkeadilan. Perluasan Perluasan keanggotaan Dewan Keamanan (DK) PBB dilaporkan menjadi `bola panas' di meja diskusi KTT Asia Afrika.

Perluasan ini dianggap sebagai salah satu pintu masuk reformasi di tubuh PBB. Indonesia dan sejumlah negara AsiaAfrika mendukung usulan penambahan anggota DK PBB ini. Bahkan, menurut Menlu RI Retno LP Marsudi, aksi saling dukung untuk menjadi anggota tidak tetap DK PBB terjadi. Salah satunya saat Indonesia dan Mongolia menyatakan saling mendukung untuk menjadi anggota tidak tetap DK PBB.

Saling dukung juga berlangsung antara Indonesia dan Swedia. Menlu Swedia Margot Wallstrom mengatakan kedua negara sepakat saling mendukung untuk mendapatkan posisi anggota tidak tetap DK PBB. Dukungan untuk Indonesia menjadi DK PBB juga datang dari Nepal.

Utusan Khusus Pemerintah Thailand, Kobsak Chutikul, memandang lima pemegang veto di DK PBB, yaitu Inggris, Prancis, Rusia, AS, dan Tiongkok, sudah tidak mewakili kepentingan semua bangsa. Karena itu, semestinya direformasi.


(Fox/Pra/Hym/Nov/X-7) arif_hulwan @mediaindonesia.com


Kirimkan tanggapan Anda atas berita ini melalui e-mail: interupsi@mediaindonesia.com Facebook: Harian Umum Media Indonesia Twitter: @MIdotcom Tanggapan Anda bisa diakses di metrotvnews.com

JOKOWI AJAK KERJA SAMA ATASI TANTANGAN GLOBAL


Kita dan dunia masih berutang kepada rakyat Palestina.Dunia tidak berdaya menyaksikan penderitaan rakyat Palestina yang hidup dalam ketakutan.

PRESIDEN RI Joko Widodo membuka secara resmi per ingatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Jakarta, kemarin. Dalam pidatonya, Jokowi menekankan sejumlah poin penting, di antaranya mendukung kemerdekaan Palestina, mendorong reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan meningkatkan kerja sama untuk menghadapi tantangan global.

Berikut pidato lengkap Jokowi.

“Yang terhormat pemimpin negara dan pemerintahan, pemimpin delegasi. Yang terhormat, Jusuf Kalla, Megawati, BJ Habibie, Try Sutrisno, dan Hamzah Haz.

Atas nama rakyat dan pemerintah Indonesia, saya ucapkan selamat datang di Indonesia, negara penggagas dan tuan rumah KAA 1955.Enam puluh tahun lalu, Bapak Bangsa kami, Presiden Soekarno, Bung Karno, mencetuskan gagasan tersebut demi membangkitkan kesadaran bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk mendapatkan hak hidup sebagai bangsa merdeka yang menolak ketidakadilan, yang menentang segala bentuk imperialisme.

Enam puluh tahun lalu, solidaritas Asia-Afrika, kita kumandangkan untuk memperjuangkan kemerdekaan.Untuk menciptakan kesejahteraan dan untuk memberi keadilan bagi rakyat kita.Itulah gelora KAA 1955. Itulah esensi semangat Bandung.

Kini, 60 tahun kemudian, kita kembali bertemu di negeri ini, di Indonesia, dalam suasana dunia yang berbeda, bangsa-bangsa terjajah telah merdeka dan berdaulat, namun perjuangan kita belum selesai.

Yang mulia para hadirin sekalian, dunia yang kita warisi sekarang masih sarat dengan ketidakdilan, kesenjangan, dan kekerasan global, cita-cita bersama mengenai lahirnya sebuah peradaban baru, sebuah tatanan dunia baru berdasarkan keadilan, kesetaraan, dan kemakmuran masih jauh dari harapan.

Ketidakadilan dan ketidakseimbangan global masih , terpampang di hadapan kita.

Ketika negara-negara kaya yang hanya sekitar 20% penduduk dunia, menghabis, kan 70% sumber daya bumi, ketidakadilan menjadi nyata.

Ketika ratusan orang di belahan bumi sebelah utara menikmati hidup superkaya, sementara 1,2 miliar penduduk dunia di sebelah selatan , tidak berdaya dan berpeng hasilan kurang dari US$2 per hari, ketidakadilan semakin , kasatmata.

Ketika ada sekelompok negara kaya merasa mampu mengubah dunia dengan menggunakan kekuatannya, ketidakseimbangan global jelas membawa sengsara yang semakin kentara ketika PBB tidak berdaya. i Aksi-aksi kekerasan tanpa . mandat PBB, seperti kita sak sikan, telah menafikan ke beradaan badan dunia yang , kita miliki bersama itu. Oleh karena itu, kita bangsa-bangsa di Asia-Afrika mendesak re, formasi PBB. Agar berfungsi secara optimal sebagai badan dunia yang mengutamakan keadilan bagi kita semua, bagi semua bangsa.

Bagi saya, ketidakadil an global terasa semakin menye sak dada. Ketika semangat Bandung yang menuntut , kemerdekaan bagi semua i bangsa-bangsa Asia-Afrika masih menyisakan utang selama enam dasawarsa.

Kita dan dunia masih berutang kepada rakyat Palestina.Dunia tidak berdaya menyaksikan penderitaan rakyat Palestina yang hidup dalam ketakutan dan ketidakadilan akibat penjajahan yang berlangsung begitu lama.

Kita tidak boleh berpaling dari penderitaan rakyat Palestina, kita harus terus berjuang bersama mereka. Kita harus mendukung lahirnya sebuah negara Palestina yang merdeka.

Yang mulia pada hadirin sekalian, ketidakadilan global juga terasa ketika sekelompok dunia enggan mengakui realita dunia yang telah berubah. Pandangan yang mengatakan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya bisa diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF, dan ADB adalah pandangan yang usang yang perlu dibuang.

Saya berpendirian pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa hanya diserahkan kepada ketiga lembaga keuangan internasional itu. Kita wajib membangun sebuah tatanan ekonomi baru yang terbuka bagi kekuatan-kekuatan ekonomi baru. Kita mendesak dilakukannya reformasi arsitektur keuangan global untuk hilangkan dominasi kelompok negara atas negara-negara lain.

Saat ini, dunia membutuhkan kepemimpinan global yang kolektif, yang dijalankan secara adil dan bertanggung jawab dan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru yang bangkit, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di muka bumi, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga dunia, siap memainkan peran global sebagai kekuatan positif bagi perdamaian dan kesejahteraan. Indonesia siap bekerja sama dengan semua pihak untuk wujudkan cita-cita mulia itu.

Yang mulia para hadirin sekalian, hari ini dan esok kita berkumpul di Jakarta untuk menjawab tantangan ketidakadilan dan ketidakseimbangan itu. Hari ini dan esok, rakyat kita menanti jawaban terhadap persoalan-persoalan yang mereka hadapi.

Hari ini dan hari esok, dunia menanti langkah-langkah kita dalam membawa bangsa-bangsa Asia-Afrika berdiri sejajar sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kita bisa melakukan itu semua dengan membumikan semangat Bandung dengan mengacu pada tiga cita-cita yang diperjuangkan para pendahulu kita 60 tahun lalu.

Pertama, kesejahteraan.Kita harus pererat kerja sama untuk hapuskan kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan layanan kesehatan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan memperluas lapangan kerja.

Kedua, solidaritas. Kita harus tumbuh bersama dan meningkatkan perdagangan investasi di antara kita dengan membangun kerja sama ekonomi antara kawas an Asia-Afrika dengan saling membantu dalam konektivitas yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan kita, bandara-bandara kita, dan jalan-jalan kita. Indonesia akan bekerja menjadi jembatan maritim yang meng hubungkan kedua benua.

Ketiga, stabilitas internal dan eksternal dan penghargaan pada HAM. Kita harus bertanya apa yang salah dengan kita sehingga banyak negara Asia-Afrika dilanda berbagai konflik internal dan eksternal yang menghambat pembangunan.

Kita harus bekerja sama menghadapi ancaman kekerasan, pertikian dan radikalisme seperti IS. Kita harus melindungi hak-hak rakyat kita.

Kita harus menyatakan perang pada narkoba yang menghancurkan masa depan anak-anak kita.

Kita harus menyelesaikan berbagai pertikaian baik dalam negeri atau antarnegara secara damai. Oleh karenanya, Indonesia memprakarsai pertemuan informal negara negara Organisasi Kerja Sama Islam untuk mencari penyelesaian berbagai konflik yang kini melanda dunia Islam.

Kita juga harus bekerja keras menciptakan stabilitas dan keamanan yang jadi prasyarat pembangunan bangsa.

Kita juga harus pastikan samudra kita, laut kita, aman bagi lalu lintas perdagangan dunia. Kita menuntut agar sengketa antarnegara tidak diselesaikan dengan penggunaan kekerasan. Ini tugas dan tantangan di hadapan kita yang harus kita rumuskan dalam siding KAA ini.

Melalui forum ini, saya ingin menyampaikan keyakinan saya bahwa masa depan dunia ada di sekitar ekuator. Di tangan kita. Bangsa-bangsa Asia-Afrika yang ada di dua benua.“ (I-3) “Dunia menanti langkah-langkah kita dalam membawa bangsa-bangsa Asia Afrika berdiri sejajar sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.“

MI/23/04/2015/Halaman 9  www.mediaindonesia.com .

MEDIA CENTER DIDESAIN BERKELAS DUNIA

PERHELATAN peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) diliput ribuan wartawan dari seluruh dunia. Guna mendukung peliputan acara internasional tersebut, Media Center KAA dilengkapi dengan fasilitas pendukung yang dibutuhkan para pewarta.

Media Center KAA bertempat di Exhibition Hall B, Jakarta Convention Center (JCC), seluas 5.850 meter persegi sehingga mampu menampung 1.000 lebih wartawan. Fasilitas di media center itu dapat digunakan mulai pukul 07.30 WIB hingga pukul 21.00 setiap hari.

Untuk mendukung kebutuhan akses internet, terdapat 250 all in one computer beserta LAN wi-fi yang terhubung dengan internet berkecepatan 2 Gbps sehingga wartawan lokal dan asing bisa langsung mengunggah berita tanpa terkendala. 

Selain itu, terdapat ruang konferensi pers berkapasitas 150 orang dan dining area untuk 500 orang. Standar itu disesuaikan dengan acara internasional lainnya seperti APEC.

“Sesuai dengan standar internasional, untuk 1.313 wartawan. Kami juga sediakan runner pegawai untuk keperluan wartawan.Lima mobil yang stand by untuk mengantar liputan jika dibutuhkan dan fasilitas kesehatan,“ ujar Kepala Informasi dan Humas Kemenkominfo Ismail Cawindu kepada Media Indonesia, kemarin.

Kemenkominfo juga menyediakan TV LED berukuran 4 x 8 meter yang menayangkan live streaming perhelatan KAA. Disediakan juga dua ministudio dan fasilitas penunjang lainnya seperti broadcast quality audio video coverage, international broadcast center, broadcaster lounge, host broadcaster & host photographer, media pool area, retail & exhibition area, dan telecommunication services area tempat wartawan dapat menggunakan telepon internasional gratis kapan pun, lalu media stand-up positions untuk camera. Bahkan terdapat juga ruang interviu empat mata.

“Ada broadcasting service sehingga wartawan tidak perlu ke lapangan, cukup mengambil gambar dalam bentuk screen shot,“ imbuhnya.(Ind/X-5)

MI/22/04/2015 Halaman 8  www.mediaindonesia.com





SAATNYA KAUM MUDA ASIA AFRIKA BERMITRA


KEMAJUAN suatu bangsa ber gantung pada kualitas para pemudanya. Merekalah yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Pernyataan itu berlaku bagi semua negara, termasuk yang berada di kawasan Asia dan Afrika.

Apalagi, lebih dari setengah populasi di kedua kawasan itu ialah pemuda. Potensi yang dimiliki itu bisa dioptimalkan jika dikelola dengan baik. Sayangnya, ketimpangan terhadap akses peningkatan kualitas, khususnya pendidikan dan kesehatan, telah menghambat pemanfaatan potensi yang ada. Masalah tersebut bisa ditanggulangi jika tiap-tiap negara di kedua kawasan itu bekerja sama, termasuk juga kaum muda mereka.

Pemahaman itu juga yang mendasari kegiatan New Asia Afrika Youth Conference Plus 2015 atau Konferensi Pemuda Asia Afrika Plus 2015 di Bandung, Jawa Barat, pada 20-22 April 2015. Penggunaan kata plus disebabkan partisipan yang hadir dalam acara itu tidak hanya berasal dari kawasan Asia dan Afrika, tetapi juga berasal dari Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.

Ketua Panita New Asia Afrika Youth Conference Plus 2015, Sarief Saepullah, menjelaskan 43 negara dipastikan akan berpartisipasi dalam acara tersebut.Konferensi akan dihelat di beberapa titik, yakni Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Hotel Savoy Homann, dan Gedung Merdeka.

“Selain perwakilan pemuda, akan hadir juga ratusan perwakilan organisasi kepemudaan dan badan eksekutif mahasiswa se-Indonesia,'' kata Sarief yang juga Ketua Dewan Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dalam keterangan resminya.

Gagasan besar

Saat membuka konferensi di Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kemarin, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, menyerukan agar pertemuan itu mampu merumuskan gagasan-gagasan besar. Jika itu terwujud, bukan tidak mungkin konferensi pemuda tersebut akan melahirkan para tokoh dan pemimpin baru dalam beberapa tahun ke depan.

New Asia Afrika Youth Conference Plus 2015, kata Menpora, juga harus memberikan rekomendasi konkret tentang persoalan-persoalan nasional, regional, dan internasional. “Pemuda Asia dan Afrika mampu memberikan kontribusi dan sudah saatnya menjadi pionir dalam tatanan dunia internasional,'' ujarnya.

Secara khusus, Menpora juga menyoroti bahaya krisis moral dan penyalahgunaan narkoba yang menghinggapi pemuda di berbagai belahan dunia, termasuk Indone sia. `'Karena narkoba semakin merajalela, Presiden Jokowi pun dengan tegas tidak akan memberi ampun dalam pemberian hukuman mati bagi penjahat narkoba.Negara-negara lain harus memahami kondisi itu,'' tutur Menpora.

Pandangan senada dikemukakan oleh President Organizing Islamic Comitee Youth Indonesia, Taufiq Lubis. Ia berharap, para pemuda se-Asia dan Afrika dapat mendeklarasikan sebuah wadah yang mempersatukan mereka. `'Konferensi itu tidak boleh sekadar seremonial. Kita perlu mewujudkan organisasi yang establish untuk menindaklanjuti gagasan-gagasan dan rekomendasi yang ada,'' jelasnya.

Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, Yuni Poerwanti, menjelaskan konferensi akbar pemuda se-Asia dan Afrika itu akan membahas berbagai isu.`'Seperti kepemimpinan pemuda dalam tantangan global, meningkatkan kemampuan entrepreneurship, dan mencari solusi atas pelbagai masalah yang dihadapi dunia,'' jelas Yuni.

Dikutip dari laman theguardian.com, Penasihat Ekonomi United Nation Population Fund (UNFPA), Michael Herrmann, menyatakan problem terbesar yang dihadapi pemuda saat ini ialah ketiadaan akses pendidikan sehingga mereka tidak memiliki keahlian.

Kalaupun mereka teredukasi, ketersediaan lapangan pekerjaan yang tidak memadai membuat tingkat pengangguran di kalangan muda meningkat signifikan. Hal itu banyak terjadi di negara-negara kawasan Asia dan Afrika.(Din/Yan/S-25)

MI/22/04/2015/Halaman 9 www.mediaindonesia.com

KAA PENANDA PENTINGNYA KEMITRAAN ASIA-AFRIKA

"Inilah konferensi antarbenua yang pertama dari bangsabangsa kulit berwarna di sepanjang sejarah umat manusia."

KALIMAT di atas adalah bagian dari cuplikan pidato Presiden RI pertama Soekarno di hadapan para delegasi Konferensi Asia Afrika pada 18 April 1955 di Bandung. Cuplikan pidato tersebut menjadi pernyataan terjadinya kemitraan antara bangsa-bangsa yang berada di benua Asia dan Afrika.
Kemitraan yang digalang merupakan wujud perlawanan terhadap segala bentuk kolonialisme di atas muka bumi.

Direktur Jenderal Asia Afrika Kementerian Luar Negeri Yuri Octavian Thamrin menyampaikan, Indonesia yang saat itu bertindak sebagai tuan rumah bisa saja memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperjuangkan kepentingan nasional.

Pasalnya, Indonesia sedang berada dalam konfrontasi dengan Belanda menyangkut pembebasan Irian Barat dan memerlukan persetujuan dari 2/3 mayoritas anggota Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk bisa membahasnya di sidang umum.

Namun, Indonesia memilih tidak menyinggung hal tersebut dalam konferensi dan lebih mendahulukan upaya bersama mengatasi kolonialisme. Karena itu, rumusan Dasasila Bandung tidak mencantumkan kepentingan spesiļ¬k menyangkut Indonesia. Kota Bandung bahkan disebut tepat untuk menjadi ibu kota bagi negara Asia-Afrika oleh Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru. Walau demikian, proses perumusan tidak menjadi mudah.

“Untuk merumuskan pernyataan bersama yang bisa diterima semua pihak dalam konferensi itu bukanlah proses yang gampang. Kita berdebat panjang, misalnya saat menyampaikan rumusan colonialism hingga akhirnya kita sebutkan colonial isme in all manifestation,“ terang Direktur Jenderal Asia Pasifik Yuri Gagarin dalam Forum Tematis Bakohumas di Bandung, beberapa waktu lalu.

Semangat yang digelorakan melalui Dasasila Bandung itu berbuah manis.Setidaknya terdapat 36 negara yang berhasil memerdekakan diri selama rentang satu dekade setelah KAA digelar. Sayangnya, semangat kemitraan Asia-Afrika menurun seiring dengan perubahan kondisi politik yang terjadi di dunia. India dan Tiongkok, misalnya, malah berperang satu sama lain.Aljazair mengalami kudeta di dalam negeri sehingga prioritas utama mereka ialah me nyelesaikan masalah dalam negeri.

Indonesia sendiri menghadapi perubahan prioritas kebijakan ketika Orde Baru mengambil tampuk pimpinan dengan mendahulukan pembangunan dalam negeri.

“Baru pada 1992, kita mulai pede berkiprah kembali di level internasional tapi kita lebih mempromosikan Gerakan NonBlok.Baru pada 2005, kita kembali membangkitkan KAA. Jadi, praktis antara 1955 hingga 2005 itu KAA seperti ada dan tiada,“ papar Yuri.

Kemitraan selatan-selatan Indonesia menyadari bahwa KAA masih penting sebagai kelompok diplomatik.Tapi, Indonesia juga menyadari bahwa kemitraan yang digalang semestinya bisa bermanfaat lebih dari itu. Berangkat dari kesadaran tersebut, KAA kemudian dilembagakan dalam New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP) sejak 2005 silam. Lembaga tersebut merupakan mata rantai penting agar semangat KAA bisa terus hadir dan relevan dalam konteks kekinian.

“Bagaimanapun, untuk orang Indonesia, KAA itu adalah our DNA. Kalau orang lain enggak peduli, kita harus peduli,“ sahut Yuri.
Adaptasi terjadi pula terkait isu yang diusung. Jika dulu terkait kolonialisme, isu yang diusung sekarang lebih mengedepankan pemerataan kesejahteraan antara negara-negara Asia dan Afrika. Isu tersebut dipilih karena menggambarkan kondisi yang dihadapi mayoritas negara-negara Asia dan Afrika dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat di kedua kawasan.

“7 dari 10 negara yang pertumbuhan ekonominya tercepat di dunia berada di Afrika. Tapi, banyak pula dari mereka yang masih menghadapi masalah kemiskinan.Karena itu, kita harus bangun kemitraan yang saling menguntungkan karena kita ingin Afrika yang lebih kuat dan makmur,“ tutur Yuri.

Di sisi lain, Asia juga menghadapi tantangan sulit. Ia menyebut konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini sebagai contoh nyata. Belum lagi pengakuan kemerdekaan Palestina yang belum juga terwujud hingga saat ini. Maka itu, pelaksanaan KAA tahun ini akan mengusung isu penguatan dukungan terhadap Palestina. “Kami akan mengusulkan agar salah satu pernyataan bersama yang dihasilkan dalam peringatan KAA ke-60 nanti adalah memperkuat dukungan terhadap Palestina,“ tukasnya.

Pada kesempatan berbeda, Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Politik Dewi Fortuna Anwar menegaskan bahwa peringatan KAA masih tetap relevan dengan kondisi dunia kontemporer meski merupakan produk diplomasi puluhan tahun lalu.

Semangat Bandung yang dimunculkan KAA memungkinkan penggalian potensi kerja sama untuk meningkatkan pengaruh sehingga akan memperkuat daya saing.Kerja sama ini bersifat dinamis sehingga kesempatan yang ada harus dipergunakan untuk kepentingan bersama.

“Kami ingin mengkapitalisasi potensi Asia-Afrika. Asia sebagai the engine of growth dan Afrika sebagai the continent of hope. Tugas dari konferesi semacam ini (KAA) adalah membangun jembatan di antara kedua hal tersebut,“ pungkasnya seperti dikutip dari Antara. (Din/S-25)

MI/21/04/2015/Halaman 9   www.mediaindonesia.com

BERSAMA MEMAJUKAN ASIA DAN AFRIKA

Konferensi Asia Afrika (KAA) menjelma menjadi jembatan kemitraan yang saling menguntungkan antara negara-negara Asia dan Afrika sehingga kesenjangan ekonomi dapat dikendalikan.

PENDAPATAN domestik bruto yang dimiliki negara-negara Asia dan Afrika hampir sama nilainya pada 1950-an. Kondisi itu kini berbeda signifikan. Direktur Jenderal Asia Afrika Kementerian Luar Negeri Yuri Octavian Thamrin menyatakan, Jepang yang dulu terpuruk akibat perang dunia ke-2 telah bangkit dan berada dalam kelompok negara-negara maju (G-8). Begitu pula dengan Republik Rakyat Tiongkok yang kini pertumbuhan ekonominya telah menyalip Amerika Serikat (AS). Perbaikan ekonomi di kawasan Asia juga ditunjukkan oleh India yang dinilai sebagai new emerging country.

Penilaian yang sama juga diterima oleh Indonesia sebagai salah satu inisiator Konferensi Asia Afrika. Negeri yang berada di antara dua benua dan dua samudra ini sekarang menjelma sebagai kekuatan ekonomi baru yang patut diperhitungkan di kancah ekonomi dunia. Itu terbukti dengan masuknya Indonesia sebagai anggota kelompok G-20.

Dari kawasan Afrika, pertumbuhan ekonomi yang signifikan diwakili oleh Afrika Selatan. Kemerdekaan dari sistem apartheid menciptakan peluang untuk bisa setara dengan negara-negara lain di dunia.Data Bank Dunia menyebutkan pendapatan domestik bruto Afrika Selatan pada 2013 mencapai US$366,1 miliar. Capaian itu mendudukkan negara tersebut sebagai negara berpendapatan tinggi.

Sayangnya, kesempatan yang sama belum dirasakan negara-negara tetangganya. Sudan, misalnya, masih saja masuk dalam kategori negara miskin. Ethiopia bahkan dikategorikan Amerika Serikat sebagai negara gagal akibat ketidakmampuan pemerintah yang berkuasa mengatasi berbagai persoalan dalam negerinya. Meski begitu, harapan akan perkembangan ekonomi Afrika tetap harus dipupuk.

“Ibu Menlu bilang kalau Asia is engine of global growth, tetapi Africa is continent of hope. Ini artinya Afrika itu masih memiliki harapan karena mereka kaya sumber daya alam. Kita harus mampu memanfaatkan kesempatan ini. Selama ini, baru Tiongkok dan Jepang saja yang sudah memanfaat kannya,“ terang Yuri.

Upaya kesetaraan Kesadaran atas kondisi saling membutuhkan antara Asia dan Afrika itu mendorong terciptanya Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika (New Asia-Africa Strategic Partnership (NAASP) dalam Peringatan 50 Tahun KAA pada 2005 lalu. Dikutip dari lamanhttp://www.aacc2015.id, deklarasi NAASP yang secara resmi ditandatangani oleh Indonesia dan Afrika Selatan sebagai tuan rumah bersama KTT itu berfungsi sebagai cetak biru bagi kolaborasi kedua benua dalam memerangi kemiskinan dan keterbelakangan. Dua isu itu merupakan masalah utama baik bagi Asia maupun Afrika.

Mengutip pernyataan mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan, keberhasilan pengentasan kedua masalah tersebut utamanya terletak pada penerapan tata kelola pemerintahan (good governance) yang baik. Faktor itu yang menyebabkan perbedaan nyata atas pembangunan yang dilaksanakan antara negara-negara di Asia dan Afrika.

Faktor kedua terletak pada kemajuan ilmu pengetahuan. Teknologi terbukti mampu menunjukkan kontribusinya terhadap kemajuan sebuah negara. Contoh nyatanya adalah Jepang. Karena itu, agar Afrika lebih maju dan makmur, mereka memerlukan dukungan transfer ilmu pengetahuan hingga peningkatan kapasitas.

“Kemitraan yang dijalin harus saling menguntungkan karena kita memerlukan Afrika yang lebih kuat dan makmur. Dengan begitu, mereka bagus menjadi pasar dan bisa menjadi mitra strategis untuk mengangkat isu bersama,“ papar Yuri.Hasil konkret Dalam Peringatan KAA ke-60 dan peringatan NAASP ke-10, Indonesia kembali menjadi tuan rumah serangkaian acara tingkat tinggi yang bertema Penguatan Kerja sama Selatan-Selatan dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia di Jakarta dan Bandung pada 19-24 April 2015. Selain pertemuan antarpetinggi negara, diselenggarakan pula Asia-Africa Business Summit pada 21-22 April di Jakarta sebagai acara pendamping.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Freddy H Tulung menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan forum para pelaku usaha Asia dan Afrika untuk mengoptimalisasi kerja sama, meningkatkan daya saing dan upaya promosi dan penjajakan peluang investasi.Forum tersebut rencananya akan diikuti oleh 41 negara dan menghadiri beragam forum diskusi. Forum tersebut diharapkan mampu membuahkan hasil konkret baik bagi pengusaha asal Afrika maupun Indonesia.

“Kami sedang menyusun dokumen akhir yang akan memuat elemen-elemen pengembangan kerja sama meliputi perbankan, UKM, perikanan, kelapa sawit, pembukaan rute penerbangan, pertambangan, energi, agrobisnis, dan kapal kontainer untuk mengangkat komoditas ekspor,“ tukasnya beberapa waktu lalu. (Din/S-25)

MI/20/04/2015/Halaman 12   www.mediaindonesia.com